Jumat, 25 Desember 2015

Episode 3

Langit hitam menaungi bumi.  suara jangkrik. Sunyi senyap. Angin dingin sesekali terdengar. Setiap orang di dalam rumah. Bola lampu menyinari secuil tanah di depan.Udara dingin terasa membuat kulit beku.  Tampak bintang gemintang bertaburan di langit. Satu titik bercahaya tersebar di berbagai arah membentuk sebuah bujur sangkar.
Sudahlah tinggal di rumahku teman. Elan memelas.
Ah...aku masih punya paman dan bibi yang bisa saya tinggal di sana. Supaya aku lebih bebas.
Sekarang sudah tengah malam hari. Besok saja nanti kuantarkan kau ke rumah paman dan bibimu.
Iya kalau begitu. Pada saat kereta kuda belok ke arah kanan jalan menuju jalan kecil. Tiba-tiba muncul sepeda motor yang dikendarai preman bayaran ke arah kiri jalan raya.
Sial kita kehilangan jejak Ahmad. Sudahlah kamu masuk gang itu, aku masuk gang ini sedangkan kau masuk gang yang dibawah.
Ahmad dan Elan masuk ke dalam sebuah rumah. Silakan masuk ujar Elan. Ahmad masuk sambil tengok kiri dan kanan. Kemudian merabahkan tubuh di atas sofa. Sebuah sepeda motor melaju di depan rumah Elan.
Ayah dimana saja kamu. Pergi tanpa izin apalagi dimalam hari begini. Apa kamu sudah punya pacar lain. Sini masuk kamar. Didalam kamar tidur. Selama aku menikah denganmu tak pernah aku bahagia cuma sedikit. Menderita dan menderita. Kamu selalu pulang  malam hari. Apa yang kau lakukan malam begini.
Aku hanya membantu teman. Ia hendak dibunuh oleh seseorang.
Lihat anak kita sakit kemana saja ayah selama ini. Pokoknya ayah sekarang harus mengurus anak dalam rumah
Tidak mau. Aku tidak mau.
Preng. Sebuah piring bertebangan pecah berantakan beradu dengan dinding tembok. Aku menyesal nikah denganmu. Pokoknya aku minta cerai. Sebuah botol dipecahkan oleh istri Elan kemudian dilemparkan ke muka Elan. Elan menghindar namun terlambat. Sedikit pipinya terkena pecahan botol itu hingga mengucurkan darah segar. Elan keluar
Kenapa teman.
Tidak apa apa
Pipimu berdarah. Habis bertemgkar dengan istri ya?!
Elan meringis kesakitan. Luka robek di pipinya terus mengucurkan darah hingga jatuh ke lantai rumah.
Lebih baik saya tinggal di rumah orangtua. Istri Elan pergi sambil menutup pintu keras.
Saya jadi tak enak. Saya tinggal di tempat lain saja. Tolong Lan sekarang antarkan saya ke rumah paman dan bibi atau saya pergi sendiri.
Maafkanlah istri saya. Sabarlah istri saya memang begitu tapi sementara. Besok ia baikan lagi.
Tidak anrarkan saya sekarang atau tidak.sama sekali.
Hei kamu sudah janji tidak akan keluar rumah malam hari. Tapi kamu keluar rumah. Janjimu bohong. Kamu senang senang dengan wanita lain. Marah istri Elan menunjuk nunjuk muka suami.
Baiklah teman.
Sekali lagi maaf teman. Ujar Elan di tengah malam hari. Jangkrik bersahutan. Tak ada penerangan jalan di luar rumah yang ada hanya lampu di ujung kampung.
Sekali lagi saya mohon maaf atas sikap istri saya.
Tidak apa-apa aku maklum. Kamu masih perlu bersabar menghadapi istrimu. Apalagi kamu pengantin baru kan
Iya angguk Elan.
Aku berangkat saja sendiri jalan kaki ke kampung mutiara.
Wah jauh sekali. Lebih baik aku antarkan kau pakai kereta kuda ini. Tatap Elan penuh kasih sayang.
Di tengah sinar rembulan yang bersinar terang bederang terdengar langkah-langkah derap kuda. Yang kadang menyeringai. Keringat mengucuran di atas dahi kepala kuda seakan ia menangis. Seolah mengetahui nasib dan penderitaan sang majikan. Di sebuah jalan batu terjauh langkah kaki kuda sekali kali terseok seok tak karuan.
Terimakasih teman kau sahabat sejati saya. Tangis Ahmad menatap Elan.
Sudah kewajibanku untuk membantumu.
Istrimu?!
Elan menggelengkan kepala. Ahmad mengerinyis kesakitan menatap penderitaannya yang kian pedih bertubi tubi. Dalam hatinya ia berjanji akan menuntut balas atas kematian isteri tercintanya. Ia ingin membunuh kakak kandungnya sendiri hingga mati di tangannya. Namun situasi sekarang tidak memungkinkan karena ia tidak memiliki kekuatan.