Jumat, 07 Oktober 2016

Biografi Seorang Guru Sukses



Biografi Seorang Guru Sukses - Iwan Tedjasukmana lahir di kota Kembang Bandung, pada tanggal 12 Juli 1944. Ayahnya bernama Tjin Soen (Alm) berasal dari Singapura, sedangkan ibunya bernama Rini Tedjasukmana (Almh) yang merupakan warga keturunan Cina. Dan mereka memilih menetap di Kota Bandung tepatnya di Jalan Kebon Jati  No. 140. Dari buah perkawinannya itu, mereka dikaruniai tiga orang anak, dua putra dan satu putri.  Dan Iwan Tedjasukmana merupakan anak terakhir atau paling bungsu.

Biografi Seorang Guru Sukses

Orang tuanya merupakan keluarga sederhana yang memiliki status kehidupan ekonomi biasa-biasa saja, karena saat itu ayahnya hanyalah seorang Teknisi Kendaraan sebagai Pegawai Negeri Sipil di Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) sedangkan ibunya hanyalah seorang ibu rumahtangga saja. Dimana guna membantu meringankan beban ekonomi keluarga, ibunda tercinta harus berjualan pepaya Cibinong, gado-gado, dan asinan untuk menambah penghasilan keluarga. Hingga nantinya mereka dikenal orang sebagai agen pepaya Cibinong!.
            Setiap perubahan yang terjadi dalam hidup kita apalagi yang mengecewakan, misalnya kehilangan orang yang sangat kita cintai memang sangat menyedihkan. Dalam kehilangan, kita sering berpikir bahwa kitalah yang paling menderita. Pola pikir seperti inilah yang sering membuat kita terlalu lama terpuruk dalam kesedihan dan tidak segera bangkit. Padahal di sekitar kita banyak orang lain yang lebih menderita. Karena itu kita harus segera bangkit dan ikut 'rombongan sukacita' Tuhan. Ketika berjumpa dengan sukacita Tuhan, segala dukacita akan dihapuskan. Inilah yang terjadi pada pada perjalanan hidup Iwan kecil.
            Pada tahun 1955, saat Iwan berusia sepuluh tahun, ayahandanya yang dikenal Iwan sebagai pribadi pekerja keras, disiplin dan tegas, meninggal dunia di usia muda yakni pada umur 48 tahun. Sepeninggal ayahnya tersebut, Iwan dan kedua kakaknya dibesarkan oleh ibunda tercinta, Rini Tedjasukmana dengan penuh kesabaran hingga mereka dewasa.

Biografi Singkat Seorang Guru
            Masa kecil merupakan periode kehidupan yang sangat strategis bagi pembentukan kepribadian anak manusia di masa yang akan datang, yaitu ketika menjadi manusia dewasa berikut keutuhan kepribadiannya. Karena integritas kepribadian seseorang diawali pembentukannya sejak usia dini, terutama ketika ia mulai mampu berkomunikasi dengan orang lain di sekelilingnya. Pada usia ini seringkali ditandai dengan kenangan manis dan kebahagiaan yang sulit terlupakan dalam proses perjalanan hidup. Segala tingkah lakunya menjanjikan kecerahan rona kehidupan, sekaligus sebagai pijakan bagi pengalaman di kemudian hari.
            Sebenarnya proses pembentukan diri, melalui pendidikan telah dilakukan sejak lahir, bahkan ketika masih dalam kandungan. Namun pendidikan dalam arti proses komunikasi yang di dalamnya berisi bimbingan dan pengajaran baru bisa dilakukan ketika anak sudah mampu melakukan komunikasi timbal balik dengan pihak lain. Dalam hal ini orang tua adalah pendidik utama dan pertama dalam rangkaian pembentukan diri seseorang. Itulah tugas para orang tua yang mengukir kepribadian putra-putrinya dikelak kemudian hari.
            Begitu pula rangkaian perjalanan kehidupan Iwan, di masa kecil.  Iwan lahir dan dibesarkan di lingkungan keluarga yang sederhana, dan berkembang menjadi besar dalam rengkuhan kasih sayang keluarga yang taat beragama. Masa kecilnya dimulai di Bandung, tepatnya di Jln Kebonjati 140 sebagai tempat tinggalnya.
            Ketika Iwan berumur 10 tahun atau pada waktu kelas 5 SD, ayahandanya meninggal dunia. Kemudian Iwan dibesarkan oleh ibunda tercintanya, Rini Tedjasukmana, yang berwirausaha kecil-kecilan. Usaha yang dijalankan berupa berdagang pepaya, gado-gado, dan asinan. Sejak kecil, sebelum memasuki sekolah umum, Iwan telah memperoleh pendidikan agama khususnya ajaran Kristen dan kedisiplinan dari kedua orangtuanya.            
            Didikan orang tuanya terhadap Iwan penuh dengan kedisiplinan. Hal ini sangat bermanfaat baginya kelak. Dan salah satu yang ditekankan orang tuanya dalam mendidiknya yaitu dalam mengerjakan segala sesuatu harus selalu tepat waktu. Sebagai contoh, biasanya jika orangtuanya akan berangkat ke suatu tempat maka  satu jam sebelumnya, mereka harus sudah siap. Kebiasaan ini ternyata menurun terhadap Iwan dalam menjalani kehidupan maupun karir. Misalnya bila ada tamu akan datang ke kantor atau rumah, maka Iwan  sudah bersiap-siap terlebih dulu untuk menyambut tamu. Bahkan ketika akan masuk sekolah Iwan selalu tepat waktu berada di sekolah. Itulah yang Iwan terima dari hasil didikan orangtua tercinta.
            Masa kecil Iwan seluruhnya dihabiskan di kota Kembang Bandung, tepatnya di Kebonjati. Mula-mula ia bermain di rumahnya di Kebonjati No. 140 tapi akhirnya karena bosan ia sering bermain di dekat Rumah Sakit Kebonjati hingga sampai sekitar Stasiun  Kereta Api Bandung.  Area bermainnya masih berada dalam daerah tersebut. Sehingga ketika memasuki usia sekolah, ia juga sekolah di sekitar  daerah tersebut, tepatnya di SD (Dulu bernama SR atau Sekolah Rakyat) Maria Bintang Laut dari mulai TK sampai SD.
            Saat kecil, Iwan dikenal sebagai anak yang pendiam. Tetapi seiring perjalanan waktu akhirnya ia berubah menjadi anak yang dikenal aktif. Hal ini imbas dari pergaulannya bermain dengan teman-temannya yang membuat Iwan kecil mulai mampu beradaptasi dan bergaul dengan limgkungan sekitarnya.
            Sebagai seorang anak kecil, Iwan juga senang bermain dengan kawan-kawannya. Permainan yang sangat disukai adalah  olahraga sepakbola yang berposisi sebagai bek. Namun demikian pekerjaan rumah membantu kesibukan orang tua tidak pernah ditinggalkan.
            Semasa kecil, Iwan pun dikenal sebagai anak yang sedikit nakal. Ia seringkali  bermain ketika harus belajar di sekolah maupun di rumahnya. Sehingga karena kenakalannya tersebut, saat duduk dibangku kelas 5 SD, Iwan sempat tidak naik kelas karena sikap nakalnya tersebut. Apalagi saat itu, ayahanda tercinta meninggal dunia, otomatis bimbingan dan perhatian dari orang tua  yang harusnya banyak ia peroleh semakin kurang, dan secara tidak langsung itu berpengaruh terhadap prestasi belajarnya.
            Walaupun demikian sang ibu tercinta tetap sabar untuk memberikan spirit dan memperhatikan perkembangan belajar Iwan. Akhirnya dengan didikan dan dorongan ibunya, tahun berikutnya Iwan bisa naik ke kelas 6 SD. Tapi di kelas 6 SD, Iwan masih suka malas-malasan belajar. Sehingga sampai-sampai oleh kepala sekolahnya yang seorang Suster yaitu bernama Suster Lusia, Iwan sempat diberitahukan tidak boleh ikut ujian karena sifat malas dan kenakalannya. Sebab saat itu, Iwan lebih sering bermain saja daripada belajar sehingga kemampuan 'otak'nya diragukan. Walaupun akhirnya ia diperbolehkan juga untuk mengikuti ujian dan bisa lulus, bahkan Iwan pun bisa melanjutkan sekolah kejenjang yang lebih tinggi, yaitu Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan diterima di SMP Aloysius yang merupakan sekolah cukup terkemuka dan top serta diminati masyarakat, khususnya di kota Bandung.
           
Contoh Profil Guru Untuk Mading
            Dalam perkembangan kepribadian seseorang, maka masa remaja mempunyai arti khusus, namun seringkali tidak begitu jelas seseorang menempatkan dirinya pada masa itu. Pada masa ini merupakan perpindahan dari masa anak menuju masa dewasa. Seorang anak dituntut selalu belajar memperoleh tempat di dalam kehidupan masyarakat, baik melalui adaptasi maupun sosialisasi. Biasanya proses ini diperoleh pertama-tama melalui pergaulan dengan teman sebaya, sedangkan proses pembentukan dirinya tidak lepas dari identifikasi dirinya dengan tokoh yang diidolakan.
            Pada masa ini juga disebut dengan transition period  karena remaja belum memperoleh status dewasa, tapi tidak lagi memiliki status kanak-kanak. Dipandang dari segi sosial, remaja mempunyai suatu posisi marginal. Karena itu jika masa remaja ini terisi dengan bimbingan, pengajaran dan meniru tokoh idola yang diidealisasikan, maka pada masa dewasanya diharapkan dia mampu membentuk kepribadian dirinya seperti tokoh yang diidolakan tersebut. Apalagi masa remaja juga dikenal sebagai periode kehidupan manusia yang integritas kepribadiannya di waktu dewasa nanti sangat diwarnai oleh kehidupan masa remajanya. Bahkan masa dewasa hanya sebagai masa pengembangan "integritas kepribadian"nya di kala remaja.
            Kehidupan masa remaja Iwan dimulai ketika masuk SMP Aloysius. Kehidupan sewaktu di SMP tak banyak berubah, ia masih suka bermain, apalagi karena murid di SMP Aloysius laki-laki semua sehingga kesukaannya bermain daripada belajar semakin kuat. Akan tetapi kenakalannya masih dalam taraf kewajaran. Suka bolos masih dilakukan, sehingga ketika suatu hari tatkala ia tidak sekolah, pernah  Iwan dijemput oleh “blunder” yaitu Rohaniawan yang tak menikah dan lebih banyak terjun dibidang pendidikan untuk menghadap ke kantor. Dan berawal dari pemanggilan tersebutlah, akhirnya Iwan menjadi sadar akan kesalahannya, sehingga dari situ ia mulai bangkit untuk belajar lebih giat, walaupun jarak antara rumah dan sekolahnya cukup jauh pada waktu itu. Iwan masih ingat disaat-saat akan memasuki masa ujian, ia dan teman-temannya seringkali belajar di kuburan Pandu, disekitar daerah Jl. Djunjunan.  Kala itu banyak pula siswa-siswi sekolah lain yang  menjadikan tempat tersebut, sebagai tempat untuk beristirahat maupun belajar sambil membaca buku-buku pelajaran, karena suasananya cukup enak dan tenang sehingga sangat kondusif dijadikan tempat untuk belajar.
Dan yang membuat Iwan ingin berubah menjadi anak baik dan mulai mentaati peraturan di sekolah,  selain karena pada saat ada pelajaran budi pekerti, juga karena adanya guru-gurunya  yang sangat memperhatikan dan memberikan teladan baik mengenai kedisiplinan maupun sopan santun padanya, terutama Kepala Sekolah SMP Aloysius bernama  Bluder Bapak Atanasius dan  Bapak Amitebun seorang guru ilmu pasti, yang juga sangat perhatian terhadap anak didiknya.
Selain itu  ada juga figur Bluder Bapak Agustinus, yang sangat perhatian terhadap Iwan dan teman-teman, misalnya jika beliau pulang dari Negara Belanda, ia selalu membawakan alat-alat permainan baru. Sehingga sebelum jam masuk atau jam istirahat, murid-muridnya diperbolehkan bermain memakai alat-alat tersebut, seperti panah-panahan, dan bila panahnya tertancap pas disasaran atau jumlahnya banyak yang kena sasaran, maka bluder Bapak Agustinus suka memberikan hadiah kepada anak didiknya yang bisa melakukannya.
            Sehingga Iwan merasa betah sekolah di SMP Aloysius. Pada saat SMP itu, ibunya sangat memperhatikan Iwan, sampai-sampai kalau mau sekolah Iwan harus diantar oleh tukang becak langganan yang ditunjuk oleh ibunya, begitu juga pulang harus menaiki becak langganan ibunya tersebut. Masa-masa di SMP itu sangat indah dalam hidup Iwan. Ia merasa senang dan bahagia sekali biasa belajar di SMP Aloysius.      
            Setelah menyelesaikan pendidikan SMP-nya,  Iwan melanjutkan ke sekolah SMA Aloysius, di tempat dan lokasi yang sama. Sikap-sikap positif selama Iwan belajar di SMP,  ia bawa juga di SMA Aloysius, dimana ia tetap rajin dan disiplin dalam belajar. Dan semenjak sekolah di SMA itulah, bakatnya dalam berolahraga dan keilmuan, terutama dibidang sepakbola, volly dan basket semakin berkembang. Apalagi sekolah memiliki lapangan olahraga yang cukup besar, sehingga ia bisa mengembangkan bakat dan minatnya tersebut. Bahkan karena bakat yang dimilikinya dalam berolahraga, Iwan terpilih menjadi anggota tim sepak bola di sekolahnya dengan menempati posisi sebagai bek/stoper. Masa-masa tersebut baginya sangat berkesan dan menyenangkan.
            Selepas lulus di SMA Aloysius, kemudian Iwan tanpa menunggu waktu lagi langsung melanjutkan kuliahnya ke Fakultas Hukum Universitas Parahyangan (UNPAR) Bandung. Karena pada waktu itu, ia bercita-cita ingin menjadi seorang Polisi yang dari cara berpakaiannya sangat menarik dan terlihat gagah. Ditambah lagi, ia  sering melihat ayahnya yang saat itu bekerja di AURI, dimana beliau juga sering berpakaian seragam montir sebagai pakaian dinasnya.

Contoh Biografi Seorang Guru
            Seperti sudah diceritakan sebelumnya bahwa masa studi Iwan di SMA Aloysius ia jalani dengan baik. Hal ini karena  ia sangat rajin belajar. Sehingga kuliah di Fakultas Hukum ia pun sangat rajin belajar, misalnya  ikut grup belajar, seminar, diskusi, dan sebagainya. Sehingga semenjak semester satu sampai tahun ketiga, ia lulus terus dalam setiap  mata kuliah dengan nilai yang memuaskan, tidak ada satupun mata kuliah yang diulang.
             Sampai akhirnya ia berhenti kuliah karena tahun 1965 terjadi peristiwa pemberontakan G30S PKI. Kemudian pada tahun 1966 terjadi demo-demo sehingga ia mogok kuliah kembali. Lalu dari masa mogok  itulah  ia mengikuti pelatihan MENWA di kampusnya.  Dalam pelatihan menjadi MENWA, diantaranya  ia diberikan kursus persiapan guru militer sehingga ia memiliki kemampuan menjadi guru militer. Dan pada akhirnya ia dipercaya menjadi seorang instruktur di MENWA.
            Iwan kemudian aktif sebagai aktifis mahasiwa.  Ia mengikuti demo-demo. Tapi karena ia dari MENWA sehingga ia bertugas dari segi pengamanan saja, seperti saat pengambil alihan sekolah asing, Iwan ikut mengambil alih sekolah-sekolah asing tersebut, dengan mendampingi teman-teman mahasiwanya dengan berpakaian preman. Iwan ditugaskan sebagai pengamanan, dengan mulai masuk ke sekolah tersebut dan setelah beres dan dirasakan aman semuanya maka anggota demo diperbolehkan masuk olehnya. Hal itu Iwan lakukan disamping tugasnya sehari-hari membantu menjaga keamanan kampusnya.
             Pada tanggal 19 Agustus 1966, terjadi peristiwa tragis, ketika tertembaknya Jus Jusman di UNPAR. Pada waktu kejadian tersebut, Iwan sedang menjaga kampusnya. Pada waktu itu ia diberitahu bahwa UNPAR akan diserang oleh serombongan orang  yang sudah masuk dari Balai Kota. Serombongan orang itu masuk ke halaman UNPAR kemudian ia dan beberapa temannya keluar dan mencoba menghalau serombongan orang itu yaitu dengan melepaskan tembakan-tembakan ke atas sehingga mereka mundur ke Balai Kota. Kemudian ia dengan beberapa temannya menunggu di belakang untuk mengantisipasi serangan kembali. Iwan kemudian berinisiatif mundur kebelakang karena waktu ia berada di halaman ternyata tembakannya meluncur ke bawah, sehingga ia berinisiatif untuk mundur. Sedangkan pada waktu itu, di sebelahnya ada wakil komandan dan berkata kepada wakil komandannya "Yop,ini pelurunya kebawah!". Sehingga ia dan rekan-rekan mundur ke belakang, dan pada waktu memutar itu Jus Jusman keluar dan ia pas terkena tembakan. Selain Jus Jusman, ada juga rekan Iwan yang lain yang tertembak pada bagian kaki. Hal ini terjadi  karena situasi saat itu menegangkan dan saling terjadi baku tembak.
            Kematian Jus Jusman sangat membekas dalam dirinya karena pada saat Jus Jusman jatuh ia berada di tempat kejadian. Dan temannya yang di Jalan Merdeka bilang pada Iwan "Wan suruh bangkit orang (Jus Jusman-red), suruh masuk" "Wah bagaimana caranya" pikirnya, karena saat itu terus terjadi tembakan. Kemudian pada waktu itu ada dua tentara yang satu dari RPKAD dan satu dari Kujang, mereka naik ke atas dan memberikan tanda bendera putih mengajak untuk damai. Tetapi saat itu masih kacau, tembakan masih kerap terdengar. Tapi sesudah dua tentara ini berjalan ke arah kampus, maka tembakan sudah mulai mereda dan tidak ada tembakan lagi maka Jus Jusman diangkat dengan tubuh mengeluarkan banyak darah sehingga ia digotong ke aula dan dibawa ke RS Boromeus lewat jalan Sumarera.
            Setelah kejadian di kampusnya itu, pada malam harinya Iwan ditugaskan untuk menjaga darah Jus Jusman di rumah sakit, dan akhirnya Jus Jusman meninggal dunia.
            Setelah peristiwa itu terjadi, kemudian semua senjata mahasiwa disita oleh KODAM. Walaupun senjata disita tapi demi keamanan kampusnya, Iwan tetap harus menjaga keamanan kampusnya dengan berjaga-jaga. Pada waktu itu panglima TNI belum memberikan  pengumuman bahwa serombongan yang menyerang UNPAR adalah kontra revolusi, sehingga ia merasa khawatir dan sangat menegangkan jika mereka datang menyerang dan ia bersama teman-temannya tidak memiliki senjata. Tapi syukur hal itu tidak terjadi. Dan pada waktu pukul 1 dinihari panglima TNI mengeluarkan siaran bahwa itu kontra revolusi, sehingga serombongan orang yang menyerang UNPAR ditangkap semuanya. Walaupun demikian, Iwan dan rekan-rekannya menjaga kampus sampai seminggu lamanya.
            Kemudian pada tahun 1967 kesempatan datang padanya tatkala ada temannya yang mau berangkat ke Jerman. Ia meminta Iwan untuk menggantikan posisinya mengajar, sehingga kemudian Iwan mulai mengajar dengan mengawali mengajar baris berbaris di pramuka, kemudian mengajar di kelas. Dari kegiatan mengajar tersebut pada akhirnya membuat Iwan terlalu asyik mengajar sehingga membuat ia lupa untuk melanjutkan kuliah kembali. Ia terus meninggalkan bangku kuliah dan terus mengajar.
             Beruntung Dosen Pembimbing Iwan sangat baik dan memperhatikan Iwan. Dosen pembimbingnya selalu mengingatkan Iwan agar Iwan menyelesaikan kuliahnya. Pada waktu itu Iwan sering dipanggil menghadap dosen pembimbing dan diberi perhatian "cepat selesaikan kuliah!"pesan dosennya. Akhirnya ia berhasil menyelesaikan kuliah walapun dalam waktu yang cukup lama. 
Setelah menyelesaikan kuliah di Fakultas Hukum UNPAR dengan meraih gelar SH, pelajaran yang didapat Iwan dari  masa-masa pendidikannya itu adalah kita ternyata tidak boleh melupakan belajar. Keasyikan bertugas sebagai guru atau aktifis mahasiwa tidak boleh melupakan kita untuk terus memperkaya diri sendiri dengan ilmu dengan mengikuti kuliah, atau dengan membaca, dsb. Selain itu, ia mulai menyadari bahwa sebagai seorang guru tidak bisa begitu saja mengajar seadanya, tapi harus melengkapi dengan berbagai bidang keilmuan. Itulah Karangan Biografi Guru Saya

1 komentar :