Jumat, 27 Mei 2016

Kisah Polisi Bripda Muthia Yang Dianiaya



Kisah Polisi Bripda Muthia Yang Dianiaya – Kembali lagi dunia jagat maya di tanah air memunculkan tokoh popular baru dari jajaran kepolisian. Sebelumnya ada Norman Kamaru dengan goyang caya caya. Lalu ada wanita cantik anggota satpol PP. Dan kini ada Bripda Muthia yang menjadi bahan pembicaraan orang baik di warung kopi maupun internet. Namun nama tenar Bripda Muthia bukan lantaran karena ia memiliki wajah yang cantik, ayu rupawan melainkan ia juga mengalami tindak kekerasan oleh rekannya sesama polisi.

Kisah Polisi Bripda Muthia Yang Dianiaya
Kisah Polisi Bripda Muthia Yang Dianiaya (www.bintang.com)
Bripda Muthia merupakan polisi wanita yang cantik yang berasal dari daerah kota hujan bogor. Banyak netizen menganggap wanita ramah ini secantik artis korea. Padahal para polisi wanita di tanah air kini mulai tampil cantik dan menawan. Hingga mereka tampil di berbagai siaran televisi seperti Metrotv, Traffic center, Hallo polisi Indosiar dan lain sebagainya.

Setelah ditelusuri lebih dalam ternyata Bripda Muthia seorang anak kandung dari artis terkenal bernama Yanti Yaseer seorang bintang sinetron FTV. Walah pantesan saja. Pada sebuah foto di media social tampak Bripda Muthia bersanding dengan Yanti Yaseer sang ibunda kandung. Bripda Muthia masuk ke sekolah Polisi Wanita demi meraih cita-citanya.

Kisah Polisi Bripda Muthia Yang Dianiaya
Sejak kecil Bripda Muthia sudah biasa tampil menjadi model maupun artis sinetron. Menjadi polisi wanita adalah kehendak sendiri. Dalam proses perekrutan menjadi polwan, wanita cantik ini harus mengisi berjibun kertas persyaratan dan pendaftaran. Dan akhirnya ia lulus menjadi Polwan RI.

Kekerasan terhadap polisi wanita Indonesia oleh oknum polisi seringkali terjadi. Misalnya tetangga penulis bernama Dikdik Hermawan seorang anggota polisi Brimob menikah dengan sesama anggota polisi (Polwan). Dimana mereka menikah dengan sukacita. Namun berjalan waktu, polisi wanita yang dinikahi oleh Dikdik selalu menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan urusan rumah tangga.

Pendek kata, polisi tak terlepas dari urusan main pukul dan kekerasan. Sudah terbiasa keras sehingga terhadap isteri tercinta sering bermain kasar. Terhadap kekasih sering bermain kasar. Apalagi anggota polwan masih bawahannya. Hal itulah yang dialami oleh Bripda Muthia.

Sehingga tak aneh jika dulu, stigma polisi itu serem masih melekat kuat hingga sekarang ini. Meninggalnya Suyono oleh anggota densus 88 menjadi contoh. Pelaku criminal seringkali dipukuli oleh polisi. Citra polisi yang hendak dikembangkan kepada masyarakat sekarang adalah religious, ramah tamah dan bersahabat. Hanya segelintir orang yang merusak nama baik corp kepolisian Indonesia.

Dalam proses rekrutmen menjadi anggota polisi harus transparan dan bebas korupsi. Tindak kekerasan seorang anggota polisi tidak dibenarkan bagaimanapun. Rekan penulis pernah dikeroyok oleh polisi karena pernah merusak sepeda motornya. Alangkah lebih baik polisi sekarang bersikap bijak jangan main kekerasan. Tak ada yang suka kekrasan yang suka adalah sikap empati dan bijak. Kisah Polisi Bripda Muthia Yang Dianiaya