Minggu, 03 April 2016

Artikel Kisah Sukses Pendidik Dari Dinas Pendidikan


Artikel Kisah Sukses Pendidik Dari Dinas Pendidikan - Daya juang memang sangat berperan dalam membentuk seseorang menjadi tangguh dan tidak kenal menyerah. Kesuksesan seseorang pun tergantung pada perjuangannya. Karena hasil yang baik juga tak akan pernah tercapai dengan mudah. Dan dengan perjuangan keras, berusaha maksimal, bersemangat, banyak belajar, dan yakin dengan apa yang dikerjakan akan berhasil serta berdo'a mengharapkan pertolongan dari Allah SWT dapat dipastikan kita akan memetik hasil yang maksimal. Hal ini tercermin pula pada sepak terjang Prof. Dr. Ir. H. Bachtiar Hasan, MSIE dalam merintis karir dan menjalani hidupnya.
Artikel Kisah Sukses Pendidik Dari Dinas Pendidikan
Artikel Kisah Sukses Pendidik Dari Dinas Pendidikan

   Latar belakang pendidikannya, dimulai ketika Bachtiar masuk SDN Garut hingga lulus tahun 1969. Kemudian ia melanjutkan ke SMPN Samalanga yang diselesaikannya dengan baik. Selepas SMP, pria yang sejak kecil sudah hidup mandiri ini, kemudian masuk ke STMN Banda Aceh Jurusan Listrik hingga tahun 1974. Setelah lulus dari STM, kemudian ia melanjutkan ke FPTK Universitas Negeri Medan yang diselesaikannya tahun 1978 dengan meraih gelar Sarjana Muda.   
            Kiprahnya di dunia pendidikan, bagi pria yang dikenal supel dan ramah ini dimulai sejak beliau menyelesaikan studi S-1nya di FPTK UPI Jurusan Teknik Elektro pada tahun 1980. Kemudian ia melanjutkan studi ke program pasca sarjana S-2 Jurusan Teknik dan Manajemen Industri ITB yang diselesaikan tahun 1986. Terakhir, ia berhasil menamatkan pendidikan S-3 di Fakultas Pascasarjana UPI Program Studi Manajemen Pendidikan tahun 1997.
            "Saya bersyukur, Allah SWT memberi saya kekuatan, jiwa pantang menyerah, hanya dengan modal itu walaupun fasilitas kurang mendukung, saya akhirnya bisa hidup sukses. Walaupun saya harus cari uang sendiri seperti ketika STM berjualan koran, dan mencari beasiswa untuk dapat kuliah, sehingga sekolah saya dari S1, S2, sampai S3, semua dari beasiswa,"ujar pria yang selalu menyelesaikan kuliah dalam waktu cepat ini.
            Pendidikan merupakan satu hal yang penting dalam kehidupan ini. Sebab lewat pendidikan seseorang bisa menjadi pribadi yang cerdas, kreatif, inovatif, mandiri, dan bermartabat. Oleh sebab itu, setiap manusia hendaknya mengutamakan dan memajukan aspek pendidikan bukan hanya bagi diri sendiri tapi juga harus dirasakan oleh orang lain. Hal itu pula yang dilakukan oleh Bachtiar. Tugas pengabdian kepada negara dan masyarakat dilakukannya dengan membantu pendidikan masyarakat. Ia mulai membuka lembaga pendidikan murah untuk rakyat. Atas aktifitas dan prestasinya, tampak jelas begitu besarnya kepercayaan UPI Bandung terhadapnya, sehingga ia dipercaya sebagai Tenaga edukatif di Jurusan Teknik Elektro FPTK UPI dan Guru Besar Bidang Pendidikan Teknologi dan Kejuruan. Selain itu, menjabat sebagai Pengampu Mata Kuliah Teknik Tegangan Tinggi, Teknik Tegangan Lanjutan, Peralatan Teknik Tegangan Tinggi, Manajemen Industri, dan Perencanaan Pengajaran Bidang Studi Kewirausahaan. Ia juga sebagai peneliti bidang Teknologi Tepat Guna dan sering mengadakan pengabdian kepada masyarakat dalam bidang penggunaan teknologi tepat guna untuk meningkatkan potensi desa-desa.
            Diwaktu senggangnya, Bachtiar selalu menyempatkan diri untuk menulis buku-buku pelajaran dan makalah seminar, serta menulis artikel-artikel di Mimbar Pendidikan dan Teknologi. Buku yang pernah ditulisnya, antara lain Teknik Tegangan Tinggi, Peralatan Tegangan Tinggi, Manajemen Industri, Perencanaan  Pengajaran Bidang Studi, Proteksi Sistem Tenaga Listrik, Pemutus Tenaga Listrik, Sistem Pembangkit Tenaga Listrik, dan Analisa Sistem Tenaga Listrik.           
            Berbagai kesibukan di dunia pendidikan dijalaninya dengan ikhlas berupa pengabdian kepada masyarakat diluar tugas sebagai Pegawai Negeri. "Saya mengelola beberapa yayasan pendidikan seperti Yayasan Pendidikan Aqua Vitae, Yayasan Pendidikan Yudhistira, Yayasan Pendidikan Pengembangan Pariwisata JABAR yang membuka Pendidikan SMP, SMA, SMK Teknologi dan Industri, SMT Penerbangan Dirgantara, SMK Bisnis dan Manajemen, SMA Plus Pariwisata, STMIK-STKIP Subang, Politeknik Kridatama, STIE Kridatama, Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Kridatama Bandung, dan Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) Kridatama Bandung", ujar pria yang juga menjabat Dosen Sekolah Pascasarjana dan pembimbing mahasiswa  S2 dan S3 UPI ini.
             Kesibukan beliau tersebut masih dalam tataran pengabdian ilmu di masyarakat sebagai pengelola lebih sepuluh sekolah setara SLTA, Diploma dan pendidikan tinggi S1, di Bandung dan Kabupaten Subang. Kemudian, ia juga menjabat sebagai Ketua Koperasi KSU-Pratamajaya, dan Komisaris CV Pratama Jaya yang bergerak dalam bidang Konsultan dan Informatika.
            "Satu hal yang saya rasakan, dengan profesi yang saya geluti ini yakni adanya kepuasan batin yang sangat mendalam. Walaupun jadi guru tidak banyak berharap menjadi orang kaya, tetapi saya berharap apa yang saya lakukan menjadi ladang amal jariyah. Dan saya sangat senang, kalau ada kabar anak-anak didik saya bisa menjadi orang sukses di masyarakat", ujar pria yang pernah menjadi Asisten IV Menwa Sumatra Utara ini.
Artikel Kisah Sukses Pendidik Dari Dinas Pendidikan  
   Pria yang terlihat santun dan supel saat bersua dengan setiap orang ini, telah melakukan banyak studi banding dalam bidang pendidikan dan industri untuk meningkatkan mutu UPI sebagai institusi pendidikan, seperti studi banding ke : Australia Negara Bagian Victoria, dengan mengunjungi Hawtone Institute Of Education (H.I.E), Gordon Technical College (G.T.C), Rowvde Secondary College, Mount Erin Secondary College ; Singapura dengan mengunjungi University Nasional Singapore ; Malaysia dengan mengunjungi University Kebangsaan Malaysia ; Jerman dengan mengunjungi (DSE) German Foundation For Internasional Development  dan Festo Didaetik International Project for Training and Education di Kota Eslingen. Dan juga beberapa universitas dan lembaga pendidikan kependidikan dan teknologi di kota-kota benua Eropa, yakni  Inggris, Paris, Luxemburg, Amsterdam, Amerika, Jepang, Philipina, Brunei Darussalam, Hongkong, Bruser dan Barcelona- Spanyol, dan terakhir mengikuti Asia Link Project 2007. Pada awal April mendatang, beliau direncanakan akan mengikuti Third International Meeting of the Asia Link Project di Universitat Autonoma de Barcelona, Spanyol.
Visi dan Misi
             Adapun yang menjadi Visi dari Bachtiar dalam memimpin beberapa lembaga sekolah dan yayasan yaitu ingin mempersiapkan para lulusan yang terdidik, bertakwa kepada Allah SWT, terampil, mandiri, dan mampu mengembangkan diri agar dapat berkompetisi mengisi pasar kerja tingkat menengah, diploma, dan sarjana, sesuai dengan tuntutan otonomi daerah, nasional maupun internasional. Sedangkan Misi yang diembannya yaitu ingin menyiapkan peserta didik yang berkualitas melalui upaya peningkatan manajemen sekolah, dan perguruan tinggi  serta dengan melalui pengembangan fasilitas, kesiswaan/kemahasiswaan, lingkungan sekolah/kampus, proses belajar mengajar, kerja sama dengan industri ataupun lembaga terkait dengan memperhatikan ketercapaian tujuan.
Kiat Membina Hubungan Baik dengan Karyawan
            Terhadap pendapat yang mengatakan bahwa SDM adalah asset suatu lembaga, ia membenarkannya. Sejalan dengan hal tersebut, baginya SDM yang bekerja di yayasan yang dipimpinnya merupakan aset yang paling berharga. Oleh karena itu, ia merasa harus menjaga hubungan baik dengan karyawan. Guna menjaga dan menjalin hubungan baik dengan para karyawan, ia melakukannya dengan pendekatan keterbukaan, kekeluargaan, sifat sosial, memberikan tugas atau wewenang yang jelas, serta memberikan kesempatan pengembangan diri bagi mereka.
Peran Pemerintah dan Pandangan terhadap Pendidikan di Indonesia
            Sementara mengenai peran Pemerintah terhadap sistem pendidikan di tanah air selama ini, dilihat dan dinilai Bachtiar sangat berperan. Menurut penilaiannya, saat ini pemerintah lebih memberikan perhatian yang lebih besar kepada sekolah negeri, sedangkan lembaga pendidikan swasta sangat sedikit diberi kesempatan untuk berkembang."Kalau ada perhatian itu merupakan bagian kecil dibandingkan dengan sekolah negeri"ujar pria yang cerdas dan selalu terlihat enerjik ini sambil berharap pemerintah lebih memperhatikan keberadaan sekolah swasta di Indonesia.
            Sementara itu, menyoroti masalah sistem pendidikan di  Indonesia, pria yang lembaganya pernah meraih Penghargaan Internasional dari UNESCO dalam pendidikan berbasis kerja ini berpendapat  bahwa sistem pendidikan yang selama ini digunakan di Indonesia memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada setiap warga negara Indonesia untuk mengenyam pendidikan. Akan tetapi ada beberapa sistem pendidikan yang harus segera diperbaiki yaitu pentingnya menyiapkan sarana dan prasarana yang memadai dan lengkap yang sesuai dengan ketentuan kurikulum dan bidang studi masing-masing. Selain itu, perlu ditingkatkan kemampuan SDM baik guru dan pengelola pendidikan dalam menghadapi kurikulum yang ada, juga stakeholder pendidikan sejak dini harus meningkatkan diri dari segi etika, disiplin, dedikasi, inovasi, dan pengembangan diri kedepan secara berkelanjutan.
            Selain itu juga, ia mengatakan bahwa "kita harus mulai membina imtak para anak didik sejak dini dari TK, SD, dan seterusnya agar imtak para siswa dapat berkembang dengan baik. Dan para pendidik hendaknya menggunakan cara belajar dan mengajar yang cocok diterapkan di Indonesia yaitu cara belajar mengajar yang bisa membangkitkan etos belajar siswa, serta tenaga pendidik harus menguasai materi pelajaran dan dunia industri atau usaha sehingga bisa memberikan contoh tentang perkembangan dunia yang ada saat ini disekitar kita, yang sesuai dengan bidang studi yang diajarkan", tutur pria yang penuh semangat dalam mengerjakan setiap pekerjaan ini.
            Sedangkan mengenai masalah kurikulum di Indonesia, ia berpendapat bahwa masih banyak kurikulum/bahan ajar yang tumpang tindih antara satu bidang studi dengan bidang studi lainnya. Selain itu, kurikulum di Indonesia tidak mengajarkan dan mengembangkan agar anak didik untuk hidup mandiri. Oleh sebab itu, sekarang ini kurikulum muatan lokal hendaknya diperluas dan diberi porsi yang lebih banyak agar anak didik dapat mengenal potensi masing-masing sehingga kedepannya bisa hidup mandiri.
Prinsip/Motto Hidup
            Sukses yang diraih pria berperawakan langsing ini tidak direngkuh dengan mudah tapi melalui kerja keras dan semangat yang tinggi serta berdo'a kepada Allah SWT. Untuk menjadi orang sukses terlebih dulu harus memiliki visi dan misi dalam kehidupan ini. "Apapun yang kita lakukan harus dimulai dari adanya visi dan misi kita. Tanpa adanya visi dan misi tersebut maka kita tidak akan mempunyai arah untuk berbuat dan apa yang harus diperbuat",pesan pria yang sejak kecil sudah hidup mandiri ini.  Kemudian, ia selalu berusaha bekerja apa yang mampu ia lakukan dengan melibatkan orang banyak, seperti mengelola beberapa yayasan sehingga memberikan lapangan pekerjaan kepada orang banyak.  Lalu yang terakhir, ia selalu berprinsip bahwa kalau orang bisa, ia pasti bisa. "Kalau orang lain bisa, kenapa saya tidak ? Orang bisa jadi Doktor, saya juga harus bisa, orang bisa naik haji, saya minta pada Allah SWT untuk bisa kesana. Orang lain bisa membantu rakyat, saya pun berusaha sampai kini dengan menciptakan lapangan pekerjaan di Bandung dan Subang",ujar pria yang cekatan dan mudah tersenyum tiap bersua dengan setiap orang serta meraih kesuksesan diusia yang relatif masih muda ini.
 Keluarga
            Dalam kehidupan berumahtangga, Bachtiar menikah dengan Dra. Hj. Elly Aryantimala pada tahun 1981, dan dikarunia tiga orang anak. Putra pertama bernama Muhammad Faisal, Spd (23) merupakan Alumni Teknik Mesin UPI. Anak keduanya bernama Nurlaela (19) yang kini masih kuliah di FPMIPA-UPI. Sedangkan anak ketiganya bernama Ardiansyah (17) yang kini masih sekolah di SMAN 11Kota Bandung. Mengenai dukungan keluarga yang diberikan kepadanya selama bekerja, ia menyatakan keluarganya sangat mendukungnya, hingga dirinya dapat bekerja dengan sebaik-baiknya.  
Latar Belakang
            Bachtiar dilahirkan di sebuah Kampung Blang Kecamatan Jeunieb Kabupaten Bireun Nangroe Aceh Darussalam (NAD), pada tanggal 4 Desember 1955. Anak kedua dari delapan bersaudara ini dilahirkan dari pasangan (Alm) Tgk. H. Muhamad Hasan Yusuf dan (Almh) Hj. Aisiyah.  Ia dibesarkan dari sebuah keluarga yang sederhana dan pekerja keras. Bapaknya seorang pensiunan guru agama Islam di SMPN Jeunied. Melalui garis keturunannya, yakni kedua orangtuanya guru dan ditambah pemikiran bahwa
setiap orang membutuhkan pendidikan untuk maju dengan memberikan ilmu kepada mereka sebagai amal jariyah, yang merupakan panggilan Allah SWT dan bisa membuka lapangan kerja kepada orang banyak sehingga ia  terjun ke dunia pendidikan yang merupakan tugas mulia yang mungkin hanya sedikit orang yang serius menoleh ke bidang tersebut. Tapi tidak bagi Prof. Dr. Ir. H. Bachtiar Hasan, MSIE yang mendarmabaktikan hidup di dunia pendidikan sejak tahun 1980.
Pandangan-Pandangan terhadap Nangroe Aceh Darussalam
            Ditanya mengenai perkembangan tanah kelahirannya Nangroe Aceh Darussalam (NAD), pria yang bertempat tinggal di Komplek Cibaduyut Permai Jln. Penataran C4 No.8 (Depan TVRI Bandung) ini mengatakan bahwa masyarakat Aceh sejak jaman kemerdekaan telah mengalami konflik yang berkepanjangan seperti DI/TII, DOM, dan terakhir Gerakan  Aceh Merdeka (GAM). Akan tetapi jika dikaji lebih mendalam konflik tersebut timbul bukan dikarenakan rakyat Aceh ingin merdeka dengan mendirikan negara sendiri, tetapi lebih kepada ketidaksetujuan mereka terhadap kebijakan pemerintah pusat yang cenderung mengatur kepentingan daerah Aceh untuk kepentingan pusat bukannya untuk kepentingan daerah Aceh sendiri, hal ini dilihat dari perspektif ide proklamasi kemerdekaan, UUD 1945, dan prinsip Bhineka Tunggal Ika, adalah sebuah penyimpangan. Ditambah lagi, setelah merdeka kita mengetahui bahwa kekayaan alam yang dimiliki Nangroe Aceh Darussalam begitu besar, akan tetapi, kekayaan sebesar itu belum mampu mensejahterakan masyarakat Serambi Mekah itu yang hanya berjumlah 4 juta jiwa sehingga timbul konflik pada waktu itu.
            Sejak diadakan penanda tanganan MoU Helsinki antara pemerintah RI dan GAM pada tanggal 15 Agustus 2005 sebagai bentuk kesepakatan bersama untuk mengakhiri konflik dan membangun Aceh secara bermartabat dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), sekarang masyarakat Nangroe Aceh Darussalam sudah dapat hidup dalam ketenangan dan kedamaian dalam kehidupan sehari-hari.
            "Adanya MoU Helsinki dampak positifnya sangat terasa, sehingga dalam era kepemimpinan Irwandi Yusuf sebagai Gubernur Aceh diharapkan kehidupan masyarakat Aceh dapat maju disegala aspek kehidupan, khususnya ekonomi rakyat. Saya yakin, jika Irwandi-Nazar mampu berinteraksi dengan segala lapisan srata masyarakat, memperhatikan apa yang dibutuhkan masyarakat, mementingkan pendidikan dan ekonomi rakyat, serta memberi contoh langsung kepada rakyat bagaimana untuk membangun, Aceh kedepannya dapat menjanjikan masa depan yang lebih sejahtera",ungkap mantan Ketua Umum Masyarakat Aceh (KAMABA) Jawa Barat, dan masih aktif sebagai Sekretaris Dewan Penasehat KAMABA serta Anggota Pengurus Majelis Adat Aceh Perwakilan Jawa Barat ini.
             Ia menerangkan bahwa konflik yang berkepanjangan di Aceh telah membawa dampak terhadap sikap dan perilaku orang Aceh sendiri. Hal ini bisa dilihat dari adanya fenomena perilaku yang menyimpang dari sebagian orang Aceh seperti korupsi, perang dingin antar sub suku, kurang menghormati orang yang lebih tua, dan lain sebagainya. Padahal fenomena seperti itu pada 20 tahun yang lalu, belum pernah kita dengar dan temukan. Orang tua kita dahulu, jika melihat anaknya ada kecenderungan sikap dan perilaku menyimpang dari adat dan kebiasaan orang  Aceh, maka sering kita mendengar kata-kata seperti : "Hana adat kah lagoe, kureung adat that dron, pen hana geu pereuno" oleh uroeng chik kah? dan lain sebagainya. Menurutnya, kata-kata teguran semacam ini hampir tidak pernah kita dengar lagi saat ini.    
            Mengenai terbitnya Qanun No.3 Tahun 2004 tentang adanya Majelis Adat Aceh (MAA), guru besar UPI Bandung ini berharap agar MAA dapat menata kembali budaya lokal dan adat istiadat masyarakat Aceh sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari budaya nasional Indonesia. "Diharapkan kehadiran lembaga ini akan mampu mengembangkan adat istiadat Aceh yang berlandaskan syari'at Islam, dan sekaligus mampu memfilter budaya asing yang merusak sendi-sendi dasar budaya bangsa kita serta mampu membangun Aceh yang bermartabat,"ujar pria yang rajin dalam melaksanakan tugas dan pekerjaannya ini.
 Pesan terhadap Generasi Muda
            Terakhir, kepada generasi muda, ia berpesan agar terus menerus belajar. Karena menurutnya, pendidikan merupakan hal yang penting bagi setiap manusia untuk maju sebagai dasar berpijak untuk mengenal dunia luar dan dunia kerja serta pengembangan diri yang berkelanjutan."Dengan pendidikan tersebut mereka dapat menangkap peluang-peluang kerja dan usaha sehingga bisa membuka lapangan kerja baru. Sebab tanpa adanya pendidikan dan Imtak maka seseorang tidak akan pernah menjadi seorang mandiri tapi ia akan menjadi beban bagi orang lain, masyarakat dan negara", pesannya sambil menutup perbincangan dengan Tim Profil.Artikel Kisah Sukses Pendidik Dari Dinas Pendidikan