Rabu, 03 Februari 2016

Kisah Sukses Dokter Teladan Terbaik Indonesia



Kisah Sukses Dokter Teladan Terbaik Indonesia - Perjalanan nasib seseorang memang kadang sulit diduga. Ada kala apa yang dijalaninya di kemudian hari berbeda dari apa yang dicita-citakannya semula. Karena, semua memang berpulang kepada kehendak Allah SWT. Setiap manusia boleh berencana, tapi Allah SWT jualah yang menentukan. Semua keberhasilan adalah berkah dari Allah Yang Maha Pemurah. Sedangkan kegagalan mempunyai hikmah sendiri. Kegagalan tidak selalu berarti gagal. Dibalik kegagalan ada suatu rencana Allah Yang Maha Tahu mungkin pada hari ini kita belum tahu maknanya. Namun, satu hal yang tidak boleh dilupakan bahwa untuk mencapai sesuatu keberhasilan tidaklah mungkin diperoleh hanya dengan berpangku tangan atau bekerja seadanya artinya harus mau bekerja keras, berusaha maksimal, bersemangat, jujur, banyak belajar, suka membantu, dan yakin dengan apa yang dikerjakan akan berhasil, dengan rasa penuh tanggung jawab. Ketika kerja keras dan usaha yang maksimal telah kita jalani, masih ada hal lain yang tidak bisa diabaikan dan dilupakan oleh manusia untuk mencapai keberhasilan tersebut, yakni berdo'a mengharapkan pertolongan dari Allah Yang Maha Kuasa. Itulah kata-kata yang tepat yang dapat ditujukan pada sosok pria kelahiran Bandung, 13 September 1951 bernama Dr. Syahrizal Aminuddin dalam menjalani kehidupannya. Keinginannnya menjadi seorang Arsitektur akhirnya kandas, dan  memilih masuk ke Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung, atas dukungan dan motivasi orangtua tercinta.
Kisah Sukses Dokter Teladan Terbaik Indonesia
Dokter Teladan Terbaik Indonesia
Seperti yang biasa dilakukan mahasiswa-mahasiswi setelah lulus sarjana, khususnya lulusan Fakultas Kedokteran, maka tugas penempatan di daerah menjadi hal wajib yang harus dilakoni. Pria yang akrab disapa Rizal ini memilih ditempatkan di daerah terpencil dan terisolir di Pulau Sumatera, tepatnya di Kabupaten Ogan Komering Ulu Propinsi Sumatera Selatan. Itupun tidak di kotanya tetapi masuk ke desa dimana masih banyak hutan, dan listrik & alat komunikasi pun belum ada serta transportasi yang masih sangat minim. Namun hal itu, ia lakukan tugasnya sebagai dokter dengan penuh pengabdian dan sebaik-sebaiknya.
             Menurutnya, ia memilih ditempatkan di luar Pulau Jawa karena sejak SMA sudah menyukai olahraga lintas alam. Banyak tantangan yang harus dihadapi di tempat tugasnya misalnya bahasa setempat, perbedaan budaya, dan tidak memiliki sanak saudara di daerah itu, serta fasilitas peralatan & perlengkapan medis khususnya kedokteran yang kurang, dll. Selama bertugas di sana selama 20 tahun, anak ketiga dari 5 bersaudara ini, ternyata sempat menjadi Dokter Puskesmas Teladan Tingkat Propinsi Sumatera Selatan tahun 1990, dan puskesmas yang dipimpinnya terpilih sebagai Puskesmas Berprestasi tahun 1988. Selain itu, bahkan bawahannya pun ada yang menjadi perawat dan bidan teladan, dll.
            Perjalanan karier Rizal perlahan tapi pasti menanjak secara konsisten, yaitu : Kepala Puskesmas Pulau Beringin tahun 1981-1985, Kepala Puskesmas Simpang tahun 1985-1988, Kepala Puskesmas Martapura tahun 1988-1991, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Komering Ulu Sumsel tahun 1991-1996, Kakandepkes OKU tahun 1992-1997, dan PLT Direktur RSUD Baturaja OKU tahun 1994-1995.
            Begitulah, Rizal menjalani perjalanan hidupnya, yang hampir sebagian besar ia lewati karena terkait dengan kepeduliannya terhadap kelangsungan bangsa ini. Tidak hanya terjun di bidang kesehatan saja, tetapi juga organisasi sosial dan kemasyarakatan serta olahraga. Ia pernah menjabat sebagai Ketua DPD KNPI Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) tahun 1991- 1994, dan Ketua PERTINA Cabang OKU tahun 1994-1997.
            Selain itu, selama lima tahun menjadi seorang Dokter Puskesmas di Propinsi Sumatera Selatan, menurutnya, ia menyaksikan sendiri fakta-fakta dimana Negara ini tidak melindungi rakyat. Serta ada kontrol-kontrol yang mengawasi dan menganggunya, yakni militerisme. Ia melihat bagaimana bangsa Indonesia dijajah oleh bangsanya sendiri, yang sedang berkuasa. "Di hadapan saya, itu terjadi kejahatan para penguasa dan pengusaha mendapatkan kavling-kavling Kelapa Sawit, Hutan Tanaman Industri, dan daerah-daerah Register. Bahkan, saya siap dipanggil oleh Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk menceritakan kejahatan-kejahatan Rezim Orde Baru hingga merusak ekologis atau ekosistem yang dapat berakibat banjir," ujar Rizal seorang Dokter yang begitu cinta terhadap bangsa dan tanah air.
            Hal tersebut menunjukkan bukan kemerdekaan yang didapatkan oleh bangsa Indonesia melainkan kehancuran. "Akhirnya saya terus mengurusi kemiskinan itu, tanpa ada pertumbuhan ekonomi," kenang pria yang kini dipercaya menjabat Penasihat IDI Kabupaten Bandung. Selain itu, "saya melihat bagaimana bahan baku di daerah seperti karet, kayu, minyak, kopi, gas,dll diambil dan dibawa oleh penguasa Rezim Orde Baru. Jika orang-orang dari daerah asal bahan baku itu diperkaya tidak apa-apa, tetapi  yang diperkaya adalah orang-orang dari pusat pemerintahan yang merebut lahan itu," ujarnya agak sedikit menyayangkan.
             Sebagai wujud nyata kecintaannya terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Rizal telah memberikan kontribusi positif untuk menyelamatkan daerah-daerah yang terancam rusak, dimana selama menjadi Dokter Puskesmas, ia berusaha membeli lahan-lahan di daerah tersebut daripada diekspansi / dirusak oleh para transmigran spontan, pendatang baru, dll. "Saya juga mengarahkan kepada bawahan agar mereka mempunyai kebun sehingga satu demi satu lahan terbeli," kenangnya. Kontribusi positif lainnya, sewaktu dirinya dipercaya menjabat Ketua DPD KNPI Kabupaten Ogan Komering Ulu, ia selalu meminta tanah kepada pemerintah di setiap desa seluas satu hektar untuk dijadikan kebun pemuda dan sarana olahraga di daerah tersebut. "Itulah sumbangan saya yang telah berusaha menyelamatkan dan melindung bangsa Indonesia dari kejahatan tangan-tangan Rezim Orde Baru," ujar pria yang pernah menjadi guru bersama istri tercinta.
Kiat Menjalin Hubungan Baik dengan Bawahan
            Terhadap pendapat yang mengatakan bahwa SDM adalah asset suatu lembaga, ia membenarkannya. Sejalan dengan hal tersebut, baginya SDM yang bekerja di lembaga yang dipimpinnya merupakan aset yang paling berharga. Oleh karena itu, ia merasa harus menjaga hubungan baik dengan bawahan, yang biasa disebut sebagai rekan-rekannya, dengan menerapkan sistem kekeluargaan, demokratis dan keterbukaan.
Kisah Sukses Dokter Teladan Terbaik Indonesia
            Dalam hal ini, ia menganggap seluruh karyawannya sebagai suatu keluarga besar. Walaupun ia berstatus sebagai Pimpinan, tetapi Rizal tidak terlalu menonjolkan sebutan atasan dan bawahan. "Kepada anak buah, saya bisa bersikap sebagai ayah dan anak, bahkan bisa sebagai rekan," ujar pria yang anti diskriminasi & feodalisme sebagai hasil didikan orangtua tercintanya.
            Selain itu, dalam melaksanakan pekerjaan, ia juga tidak menganggap ada perbedaan antara karyawan yang satu dengan yang lain, maupun dengan dirinya sendiri, tetapi mereka bekerja tim secara bersama-sama dan bersaing untuk tujuan bersama pula. Dengan harapan mereka semua dapat bekerja dengan perasaan senang dan lapang dada. Dari situ, menurut Rizal dengan sendirinya mereka akan dapat melakukan segala sesuatunya secara tepat waktu dan profesional. 
Dorongan & Motivasi Orang Tua yang Membawa Berkah
            "Sejak lulus SMA, Rizal muda selalu diberikan motivasi oleh orang tua tercinta bahwa harus menjadi seorang Dokter. Tidak usah menjadi Arsitektur, yang penting kamu harus menjadi Dokter karena di keluarga kamu belum ada yang menjadi tenaga kesehatan tersebut".
            Kutipan di atas merupakan sebuah dorongan yang diberikan oleh orang tua tersayang kepada anaknya, Rizal. Sebuah dorongan, support yang telah memotivasi pria yang dilahirkan dari pasangan Mr. Aminuddin (alm.) dan Barlina (almh.) ini, dalam menjalankan hidupnya sebagai seorang Dokter yang mendedikasikan dirinya bagi bangsa dan Negara, khususnya dalam bidang kesehatan, untuk berbuat yang terbaik dalam setiap penugasan manakala Pimpinan memberinya kesempatan untuk berkarier sesuai kemampuan.
            Rizal mungkin merupakan pribadi yang diberi keberuntungan besar oleh Allah SWT, karena selama sepanjang hidup hingga penugasannya, diberikan kesempatan untuk banyak belajar secara langsung. Ia merasa sangat bersyukur dan beruntung menjadi Dokter, dimana profesinya itu sesuai dengan panggilan hati nuraninya.     
Pegawai Negeri yang Jujur dan Penuh Pengabdian terhadap Bangsa & Negara Indonesia
            Image yang tertanam di masyarakat sejak lama, bahwa pekerjaan yang paling enak itu menjadi pegawai negeri. Seperti menjadi sebuah cita-cita paling ideal. Apalagi di kalangan masyarakat menengah ke bawah, doktrin yang diberikan oleh para orangtua kepada anak mereka saat besar kelak, kalau tidak menjadi dokter, Insinyur atau tentara, paling banter menjadi pegawai negeri. Jarang ada arahan untuk menjadi selain daripada itu. Sehingga seperti yang kita lihat, sampai saat ini bahwa pekerjaan yang paling dicari dan safety adalah menjadi pegawai negeri.
            Apakah salah? Tentu tidak. Sepanjang memang dilakukan pada track yang benar, tidak ada salah menjadi pegawai negeri. Malah bagus karena bisa mengabdi pada negara sesuai dengan fungsi dan kemampuan masing-masing. Hanya saja susah melepaskan diri dari stigma buruk masyarakat tentang pegawai negeri dan segala kekurangannya. Padahal tidak semua begitu, tidak semua anggapan masyarakat selama ini bahwa pegawai negeri baik golongan bawah sampai atas adalah mereka yang hobbynya KKN dan menggerogoti uang negara. Dengan lapang hati kita harus mengakui bahwa mereka yang menyimpang adalah oknum yang tidak bertanggung jawab. Bahwa masih ada bahkan banyak dari para birokrat itu yang jujur, dan sadar bahwa jalan lurus dan tidak neko-neko lebih menyelamatkan daripada harus berbuat curang.
            Pria yang dikenal dermawan dan murah senyum ini adalah salah satu diantara birokrat yang masih banyak dan jujur itu. Menjadi satu diantara sekian banyak orang yang menganggap bahwa kedudukan dan jabatan adalah hal yang harus dilaksanakan pada jalur yang benar dengan sebaik-baiknya, penuh pengabdian kepada bangsa & negara Indonesia. Pria yang halus tutur kata dan lembut dalam bersikap ini sudah menjadi dokter sekaligus pegawai negeri sejak ia lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (UNPAD) Bandung.
Filosofi / Motto Hidup
            Di dalam menjalani kehidupan, pria yang selalu tampil enerjik dan bersemangat ini mempunyai dan melaksanakan filosofi / motto hidup yang diwariskan oleh orangtua tercinta, yaitu : "Apa yang kamu perbuat hari ini menentukan keadaan yang akan datang". Artinya, jika hari ini kita tidak berbuat kebaikan untuk orang lain maka nanti kita tidak akan mendapatkan hasil atau pahalanya. Filosofi hidup yang kedua, yaitu "Alam atau kodrat itu lebih kuat daripada ilmu pengetahuan".Menurutnya, sepintar-pintarnya kita, alam seringkali lebih kuat. “Maksudnya, kita harus mempunyai budaya atau tradisi yang maju, yang harus dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan modern”. 
            Adapun filosofi kerja Rizal, yakni : "Berkompetisi untuk Kebersamaan". Hal ini pula yang ia tanamkan kepada para bawahannya. "Kita harus berkompetisi dengan rekan kerja, dan siapapun dengan tujuan kebersamaan", ujar pria yang selalu menjaga kadar intelektual sebagai dokter yang berbudaya maju dan selalu berusaha menjadi agent of change, pelopor kebaikan dalam pembaharuan di masyarakat.
Keluarga
            Dalam kehidupan berumahtangga, pria yang ulet dan pekerja keras ini menikah dengan Euis Hartini pada tahun 1980. Dan saat ini dikaruniai tiga orang anak, 2 putra dan 1 putri. Ketiga anaknya sudah besar-besar. Dimana anak yang pertama bernama Irvin Razad dan anak kedua, M. Hendarsyah, yang keduanya kini sedang menimba ilmu di Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang. Sedangkan anak ketiganya bernama Nia Harilianty sekarang sedang melanjutkan studi di Universitas Padjadjaran (UNPAD) Bandung.
            Mengenai dukungan keluarga yang diberikan kepadanya dalam menjalankan profesinya sebagai seorang Dokter, ia menyatakan sangat baik, terutama dari isteri tercintanya yang merupakan lulusan Akademi Keperawatan (AKPER). Untuk membagi waktu dan membina hubungan baik dengan keluarganya, ia mengatakan tidak ada masalah sebab dirinya cukup banyak waktu apalagi sesudah pindah ke Kabupaten Bandung, dimana sekarang ini kebetulan dirinya tidak membuka praktek dokter. 
Pesan terhadap Generasi Muda dan Pemerintah
            Kepada generasi muda, Rizal berharap agar dapat menjadi warga negara Indonesia yang baik, dimana sadar akan kewajiban-kewajibannya terutama dalam bidang politik. Selain itu, generasi muda hendaknya menjadikan Pancasila sebagai alat pemersatu bangsa, jangan bertindak diskriminasi terhadap suku-suku di tanah air, dan jangan merasa suku dia yang paling baik. "Hal-hal itu perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya konflik atau separatisme", ujar pria yang supel dan murah senyum ini.
            Sedangkan kepada Pemerintah, pria yang rajin berolahraga ini berharap agar dapat melakukan peningkatan kinerja aparatur negara, melakukan efisiensi, serta yang paling penting adalah segera berantas korupsi. Menurutnya, reformasi sekarang ini direbut kembali oleh para koruptor. "Oleh sebab itu, pemerintah hendaknya bertindak tegas dan tidak setengah-setengah dalam memberantas korupsi," harapnya sambil menutup perbincangan dengan Tim Profil. 
Demikian kisah sukses dokter teladan terbaik Indonesia. Semoga berguna.