Minggu, 07 Februari 2016

Kisah Sukses Pengacara Advokat Jujur Hebat



Kisah Sukses Pengacara Advokat Jujur Hebat - Untuk mencapai sesuatu keberhasilan tidaklah mungkin diperoleh hanya dengan berpangku tangan atau bekerja seadanya artinya harus mau bekerja keras, berusaha maksimal, bersemangat, ulet, jujur, banyak belajar dan yakin dengan apa yang dikerjakan akan berhasil, dengan rasa penuh tanggung jawab dan berpedoman pada ajaran-ajaran agama. Ketika kerja keras dan usaha maksimal telah kita jalani, masih ada hal lain yang tidak bisa diabaikan dan dilupakan oleh manusia untuk mencapai keberhasilan tersebut, yakni berdo'a mengharapkan pertolongan dari Allah SWT. Demikian kunci sukses Iwa Asyarif didalam menjalani kehidupannya maupun sebagai seorang Advokat. 

Kisah Sukses Pengacara Advokat Jujur Hebat
Kisah Sukses Pengacara Advokat Jujur Hebat
            Pria yang akrab disapa Iwa ini lahir di Bandung pada tanggal 22 Juni 1948. Pada masa kecilnya ia sering diajak oleh ayahnya seorang tokoh PNI untuk mengadakan kunjungan ke berbagai daerah, sehingga semenjak SR (Sekolah Rakyat  ) ia sudah menyenangi pidato Presiden Pertama Republik Indonesia, Ir Soekarno dan sekaligus mengagumi sosok Proklamator tersebut. Lalu pada usia 11 tahun ketika masih duduk di SMP, ia membuka taman bacaan dengan nama Taman Bacaan Sederhana di rumahnya. Dengan diberi modal satu buku oleh ayahnya, ia terus mengembangkan taman bacaannya hingga menjadi ribuan buku. "Orang yang pinjam buku bukan hanya dari daerah sekitar tapi ada juga dari orang yang alamatnya jauh", ujar pria yang gemar membaca buku sejak kecil dan selalu menyempatkan satu jam sehari untuk membaca buku ini.
            Ketertarikannya menekuni profesi sebagai seorang Advokat sudah tertanam sejak kecil. "Karena sejak kecil saya sangat mengidolakan adanya seorang Advokat yang gigih dalam memperjuangkan tegaknya hukum, dan menegakkan kebenaran dan keadilan", tegas pria yang bernama lengkap Iwa Asyarif ini. Pada masa kecil, ia ditempa oleh berbagai kekerasan karena ia hidup dalam komunitas Buahbatu Boys Club (BBC) yang kemudian berganti nama menjadi Buahbatu Course. "Jadi pada waktu itu, BBC disebut suatu kumpulan anak-anak muda dan semuanya sekolah atau berpendidikan. Kemudian dari situ ditambah lagi ayah saya seorang tokoh partai politik Partai Nasional Indonesia, sehingga saya juga ada faktor keturunan menyenangi pidato,"ujar pria yang supel dan ramah tiap bersua dengan setiap orang ini.
Kisah Sukses Pengacara Advokat Jujur Hebat     
Sebelum menjadi seorang Advokat, Iwa diangkat terlebih dulu oleh Bupati Kabupaten Bandung pada waktu itu, Kolonel Raden Haji Sumantri, sebagai Sekretaris Umum Badan Komunikasi Penghayatan Kesatuan Bangsa (Bakom PKB). "Juga pada saat itu Bapak Bupati menyarankan saya untuk kuliah di Fakultas Ilmu Sosial Politik (FISIP). Akan tetapi ayah saya menyarankan sebaiknya jangan terjun didunia politik, tapi terjun saja didunia hukum sehingga saya kuliah di Fakultas Hukum Uninus", papar pria yang murah senyum dan kooperatif ini. Selepas kuliah tahun 1978, ia  terjun langsung didunia hukum dengan dibantu dan didorong oleh para pengacara senior pada waktu itu, termasuk dari (Alm) Bapak  Mr. Yap Tian Kiem seorang Advokat terkenal di Jakarta, sehingga ia membulatkan hati untuk menjadi seorang Lawyer.         
            "Sebenarnya saya sudah praktek dalam dunia hukum sebelum kuliah di Fakultas Hukum Uninus yaitu pada tahun 1974 dengan mengurus perkara pidana maupun perdata", ujar pria yang lulus pengacara tahun 1979 ini. Bahkan sejak tahun 1976 ia sudah memulai sidang di Pengadilan Negeri Bandung walaupun belum mendapat ijin resmi pengacara. "Pada waktu itu saya mendapat bimbingan praktek hukum dari (Alm) Mr. Astawinata, Dr. Iman B Kusumah SH, Mantan Sekretaris Daerah Pemerintah Kabupaten Ciamis, Ruslan Harian Abdullah SH, sekarang menjadi Notaris, dan banyak lagi yang membimbing saya termasuk Mansur Kartayasa SH., MH, yang sekarang menjabat Hakim Agung Mahkamah Agung Republik Indonesia,"terang Iwa sambil mengungkapkan bahwa sangat banyak orang yang mendukungnya menjadi seorang Advokat termasuk dari keluarganya.
            Dalam UU No.18 Tahun 2003 profesi seorang Advokat setara sebagai penegak hukum lain seperti kepolisian, kejaksaan, hakim, dan lembaga pemasyarakatan. "Jadi, kami adalah penegak hukum bagian dari para penegak hukum lainnya yang sudah ada sejak lama," ungkap pria yang mengakui banyak mengalami suka maupun duka ketika menjadi seorang Advokat. Selama menjalani profesinya, suka yang dirasakan Iwa adalah banyak membantu orang yang mendapatkan kesulitan, walaupun tidak sedikit yang masih belum dapat diberikan bantuan hukum karena beberapa faktor. Iwa sangat menyadari bahwa profesinya sebagai seorang Advokat mengandung dan mengundang bahaya seperti halnya wartawan, "bahkan bisa lebih berisiko dari wartawan. Wartawan bisa berbahaya karena pemberitaan saja, sedangkan seorang Advokat bisa berbahaya karena kata-kata dia yang terlontar di persidangan dan perbuatan-perbuatan lainnya yang menyakitkan pihak lawan"ujar pria yang selalu terlihat bersemangat dalam menjalankan aktifitasnya ini.
            Dunia hukum di Indonesia, sampai sekarang dilihat Iwa, secara umum, masih banyak terjadi penyimpangan hukum. "Walaupun sudah dimulai adanya reformasi hukum kemudian supremasi hukum, tapi masih banyak penyimpangan-penyimpangan hukum baik dikalangan institusi maupun kalangan masyarakat", tutur pria yang selalu terlihat sederhana dan enerjik ini. Menurutnya, pada masa reformasi sekarang ini hukum harus menjadi panglima atau supremasi hukum, tetapi kenyataannya masih dapat dikuasai oleh 'kekuatan politik tertentu'. Hal ini mengakibatkan masih banyak terjadi ketimpangan hukum, dan juga adanya benturan demokratisasi yang diterjemahkan oleh masyarakat terutama orang-orang awam bahwa itu adalah kebebasan, dimana mereka dapat melakukan sesuka hatinya dengan memakai alasan melakukan demokratisasi yang ternyata banyak sekali tindakan anarkis dan ini bertentangan dengan hukum, "sehingga sekarang di Indonesia timbul dilema antara menegakkan hukum dan demokratisasi", ungkap pria yang selalu berpenampilan sederhana dan rapi ini.
            Keberhasilan dan kesuksesannya yang kini diraihnya tak lepas juga berkat pengertian dan dukungan penuh dari keluarganya, terutama isteri dan kelima anaknya. Dukungan mereka sangat berarti dalam menunjang karirnya. Oleh sebab itu, ia berusaha menjadi  suami yang baik untuk isteri tercintanya, dan sekaligus ayah yang baik bagi kelima anaknya. Anak sulungnya bernama Heti Hasanah SH sekarang menjadi Dosen Fakultas Hukum di Universitas Komputer Indonesia dan juga seorang Advokat, serta lulus sebagai pengacara tahun 2000. Lalu adik-adiknya mengikutinya kuliah di Fakultas Hukum Unpad yaitu anak keempat bernama  Heni Hanifah yang sedang menyelesaikan skripsinya. Sedangkan anak bungsunya juga sekolah di Sekolah Tinggi Hukum Bandung (STHB) yang bernama Herdian Hasanurohman.  Adapun anaknya yang lain ada yang sedang kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi yaitu Heni Hasanudin, dan di Fakultas Ekonomi Unikom, Helmi Hasan Wakalam. Dalam mendidik anak-anaknya, Iwa selalu menerapkan kepada mereka agar dapat hidup mandiri.
            Ditanya mengenai kiat suksesnya, ia menyatakan bahwa kesuksesan itu terletak pada membaca karena  buku adalah gudang ilmu, sehingga kuncinya adalah membaca. Jadi kalau orang gemar membaca maka dia akan terus menerus ada masukan. Membaca apa saja, kalau dia tiap hari membaca koran, buku-buku yang kita beli atau kita pinjam dari perpustakaan, setelah itu kita diskusikan. Disamping itu juga harus membaca kitab-kitab agama terutama bagi muslim adalah Al-Quran dan Al-Hadist, sehingga ada keseimbangan antara duniawi dan ukhrowi.
            Karena pentingnya membaca untuk meningkatkan sumber daya manusia, Iwa selalu menanamkan pada anak-anaknya dan anak didiknya agar gemar membaca, "karena mendapatkan ilmu dibangku kuliah sangat terbatas. Bayangkan ratusan ribu buku itu tidak mungkin bisa disampaikan oleh dosen-dosen kepada mahasiswanya dalam waktu beberapa tahun, apalagi kualitas dosen tidak qualified. Membaca buku secara pelan-pelan saja minimal satu jam satu hari. Tapi bukan membaca buku lalu hilang ilmunya tetapi harus ada ilmu yang tersimpan dalam memori, sehingga kita mengerti dan memahami apa yang dibaca serta mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Tentu yang baiknya diambil dan yang buruknya dibuang", ujar pria yang memiliki 2 orang cucu dan selalu berusaha bekerja sebaik-baiknya untuk mencerdaskan anak didiknya.
            Program Kadarkum (Keluarga Sadar Hukum) yang beberapa tahun lalu ada merupakan program yang baik sekali dengan tujuan menjelaskan kepada masyarakat mengenai hukum-hukum. Secara periodik penegak hukum berkunjung kepada masyarakat di beberapa daerah, dan menjelaskan mengenai hukum yang sedang dihadapi saat itu  oleh masyarakat seperti hukum tanah, dan lain-lain. Tetapi program tersebut sekarang mulai terlihat lesu, sehingga ia berharap Program Kadarkum harus lebih ditingkatkan lagi. Karena sosialisasi atas perundang-undangan harus lebih diintensifkan, salah satunya lewat Program Kadarkum.
            Sedangkan menyangkut banyaknya kejahatan di Indonesia dewasa ini, Iwa berharap sikap para penegak hukum agar dapat konsekuen, konsisten, dan memberikan teladan yang baik, sehingga masyarakat dapat melihat kewibawaan hukum. Jadikanlah hukum ini sebagai panglima atau supremasi hukum. Selain itu, ia berharap agar lebih banyak didirikan pos bantuan hukum yang dapat melayani kepentingan masyarakat yang tidak mampu. "Kalau mungkin pos bantuan hukum ada di tiap desa, kalau tidak bisa minimal ada di tiap kecamatan yang dikelola oleh praktisi hukum yang handal,"ujar pria yang baik hati ini yang  masih memiliki keinginan yang belum tercapai saat ini yaitu ingin aktif di pos bantuan hukum tersebut. Sedangkan bagi pengusaha tidak bisa ke pos bantuan hukum, mereka harus menghubungi kantor Advokat. Oleh sebab itu, pemerintah harus lebih memperhatikan kepada institusi swasta yang mendirikan pos bantuan hukum tersebut dengan membuat anggaran yang dapat menunjang keberadaan dan kelangsungan hidup pos bantuan hukum tersebut. "Dengan adanya pos bantuan hukum, jika ada orang-orang yang bersengketa mereka akan datang ke pos tersebut sehingga bisa diselesaikan secara damai, tidak harus ke pengadilan. Itu bisa mengurangi tingkat kriminalitas dan lebih cepat ditangani"ujar pria yang bercita-cita kantor hukumnya berdampingan dengan pos bantuan hukum dan sekaligus mengelolanya ini.
            Didalam menjalani kehidupan, Iwa mempunyai dan melaksanakan motto atau prinsip hidup dalam segala aktifitas dan kegiatannya. "Motto hidup saya selalu berpedoman kepada Al-Quran dan As-Sunnah walaupun saya bukan santri tapi saya senantiasa berusaha untuk mengacu pada agama yang kami anut",papar pria yang rajin beribadah ini. Ia menganggap hidup ini diibaratkan seperti air yang mengalir dan berpegang pada Sunah Rasulullah SAW bahwa kehidupan hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan besok harus lebih baik dari hari sekarang. Misalnya kemarin ia sedikit malas, tapi hari ini harus lebih giat lagi serta besok harus lebih giat lagi dari hari ini. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda seorang muslim harus meningkatkan keimanan yang grafiknya naik. "Itu adalah motto hidup saya, menyikapi kehidupan dan tantangan hidup serta saya bekerja mencari nafkah dengan niat ibadah sehingga merupakan bagian dari ibadah",tegas pria yang berusaha  meninggalkan nama baik setelah meninggal nanti ini. Selain itu, ia tidak menganggap hidup ini mudah, karena hidup ini penuh tantangan. Tapi ia juga tidak merasakan hidup ini sulit. Ia bersikap biasa-biasa saja dalam menjalani hidup seperti air yang mengalir, yang penting ia harus berpikir agar hari ini lebih baik dari hari kemarin dan besok harus lebih baik dari hari sekarang.
Pesan untuk Generasi Muda
            Kepada generasi muda dan generasi yang akan datang, ia berpesan agar mereka harus gemar membaca buku, kemudian buku itu dimengerti dan dipahami serta diaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari sesuai bidangnya masing-masing, seperti bidang teknik, komputer, bahasa, ekonomi, dan lain-lain. Disamping mereka beragama, mereka juga harus memiliki suatu sikap sense of belonging terhadap negara ini. Mereka harus mempunyai rasa nasionalisme tinggi dan mencintai negara seperti sebuah ungkapan bahwa baik atau buruk itu negara kita yang harus terus dipertahankan. Kebesaran Indonesia harus terus berkibar dimata dunia. Selain itu, ia berharap agar generasi muda masa kini dan generasi mendatang tidak mengalami hal-hal seperti yang dialami sekarang ini, yaitu hal-hal yang benar-benar menyakitkan seperti banyak intervensi negara asing di Indonesia, banyak korupsi, dan lain-lain.
            Terakhir, ia berpesan kepada generasi muda agar jangan cepat putus asa. Dalam persaingan yang ketat sekarang ini seperti sulitnya mencari lapangan kerja, dengan banyak membaca buku bisa menciptakan lapangan kerja. Menurutnya, generasi muda saat ini lebih mendahulukan tindakan kekerasan atau demonstrasi daripada berdiskusi. Padahal saat ini apapun keadaan di Indonesia harus banyak didiskusikan mengenai solusinya bukan didemonstrasikan apalagi dengan cara anarkis. "Mereka juga harus tetap pada jati diri sebagai bangsa Indonesia, seburuk apapun pimpinan maka kita harus koreksi dengan cara yang baik, seperti dengan cara diskusi untuk mencari solusi atas setiap permasalahan",tuturnya sambil menutup perbincangan dengan Tim Profil. 
Itulah kisah sukses pengacara advokat jujur hebat. Semoga bermanfaat.